Bukan Sekadar Cerita Startup Biasa
Bayangin: ada satu perusahaan AI yang nilainya udah tembus hampir 1 triliun dolar, tapi pendirinya justru orang yang paling vokal ngomong, “Eh, AI ini bisa bikin dunia berantakan kalau kita salah kelola.”
Itu kurang lebih energi yang kebayang waktu kita diajak masuk ke dunia Anthropic, perusahaan di balik Claude—si “asisten digital” yang mungkin udah diam-diam bantuin kerjaan banyak orang.
Yang bikin makin seru, otak utama Anthropic ini kakak-adik: Dario dan Daniela Amodei. Satu tipe ilmuwan kosmik yang hidupnya diisi matematika dan sains fiksi, satu lagi operator yang bikin semua ide gila itu bisa jalan di dunia nyata.
Dan dari obrolan mereka, kelihatan banget: AI bukan cuma soal aplikasi keren, tapi soal gimana kita kerja, mikir, sampai cara kita ngadepin masa depan yang mungkin isinya banyak orang kehilangan pekerjaan.

Dari Anak Kutu Buku ke “Bintang” AI
Dario digambarkan sebagai “selebriti AI yang nggak sengaja jadi selebriti.”
Waktu kecil di San Francisco, dia cuek banget sama euforia internet pertama, lebih milih tenggelam di matematika, coret-coret rumus, dan baca sains fiksi tentang masa depan.
Sementara itu, Daniela yang jadi adiknya justru lebih ke buku dan seni.
Dario udah ngambil kalkulus sejak SMP dan sempat kuliah matematika di UC Berkeley ketika masih SMA, sedangkan Daniela berangkat dari dunia startup fintech, jadi early employee di Stripe sebelum akhirnya ikut ke dunia AI.
Perjalanan Dario ke AI lumayan panjang:
-
Awalnya belajar neuroscience.
-
Lalu pindah ke dunia AI di Baidu dan Google.
-
Sampai akhirnya gabung ke OpenAI waktu organisasi itu masih “idealistik banget” dan berstatus nirlaba.
Mereka berdua—plus suami Daniela, Holden—sempat tinggal bareng di San Francisco, jadi bisa dibilang, ini bukan cuma startup, tapi juga proyek keluarga besar.
Masa di OpenAI dan Lahirnya Ide Anthropic
Di OpenAI, Dario punya kontribusi penting: dia termasuk orang yang mempopulerkan konsep “scaling laws”—ide bahwa model bahasa besar akan terus makin pintar kalau dikasih data dan komputasi yang jauh lebih besar, walaupun algoritma dasarnya nggak berubah jauh.
Waktu itu idenya masih kedengeran “nyeleneh”, belum banyak yang percaya kalau “digeber gede” adalah cara utama bikin model makin canggih.
Tapi pendekatan itu terbukti jadi bahan bakar penting di balik melesatnya model-model OpenAI, sampai akhirnya melahirkan ChatGPT.
Masalahnya, di balik semua kemajuan itu, mulai muncul gesekan soal arah perusahaan dan nilai-nilai yang dipegang.
Dario cerita, keputusan cabut dari OpenAI bukan cuma soal “beda pandangan teknis soal safety.”
Menurut dia, titik krusialnya adalah ketika dia merasa nggak bisa lagi percaya sama nilai dan kejujuran pihak yang memimpin.
Kalau kamu udah sampai di titik di mana kamu ngerasa visi dan nilai nggak ketemu, ya pada akhirnya jalannya cuma satu: “kamu bikin versi kamu sendiri.”
Dari sanalah Anthropic lahir:
-
7 co-founder di awal, dua di antaranya Dario dan Daniela.
-
Di masa pandemi, mereka rapat di taman, bawa kursi lipat, ngumpul di rumput, ngobrolin mimpi ngebangun lab AI yang super kuat tapi (katanya) super peduli keselamatan.
Anthropic: “AI Paling Kuat” Tapi Ngaku Mau Jadi yang Paling Aman
Secara branding, Anthropic mengambil posisi unik: lab AI yang menempatkan “safety” sebagai jantung produk.
Nama “Anthropic” sendiri diambil dari kata Yunani yang berarti “manusia”—mereka pengin menegaskan misi: bikin AI yang ngasih manfaat jangka panjang buat kemanusiaan, bukan cuma buat investor.
Mereka bikin Claude, chatbot dengan karakter yang sengaja dikurasi.
Claude ini dilatih pakai “Constitution”—semacam kumpulan prinsip nilai yang dijadikan pegangan: apa yang boleh, apa yang nggak, gimana cara ngomong, gimana cara nolak permintaan yang berbahaya.
Daniela nyebut “rasa” Claude sebagai “professional warmth”: hangat, ramah, tapi tetap profesional dan punya jarak.
Tujuannya bukan bikin Claude jadi “sahabat curhat” yang terlalu melekat ke pengguna, tapi nggak juga kaku kayak robot tanpa ekspresi.
Menariknya, mereka nggak cuma ngandalkan value internal.
Mereka mengacu juga ke dokumen seperti Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB untuk ngasih bingkai nilai yang dianggap cukup universal.
Bahkan mereka mulai ngobrol dengan pemuka agama dari berbagai latar buat nyari nilai-nilai lintas kepercayaan yang bisa ditanamkan ke karakter Claude.
Claude dan “Dial Halus” Antara Peduli dan Nyebelin
Di awal-awal, Claude versi lama ternyata punya sifat yang… agak “nanny mode.”
Kalau user nanya hal sederhana, Claude bisa tiba-tiba terdengar kayak konselor yang terlalu khawatir: “Aku sangat khawatir sama kamu,” padahal orangnya cuma nanya cuaca.
Dari situ tim Anthropic belajar kalau bikin karakter AI itu kayak nyetel dial yang super sensitif.
Kebanyakan empati bisa bikin user ilfeel, terlalu dingin juga bikin pengalaman terasa kayak mesin tanpa jiwa.
Mereka juga lumayan obsesif soal dua hal:
-
Kejujuran: mengurangi “halusinasi” alias momen saat model ngarang fakta tapi kedengaran meyakinkan.
-
Harmlessness: memastikan model nggak tanpa sengaja ngasih info yang berbahaya atau bikin orang bisa melakukan hal buruk.
Yang bikin agak ngeri, Anthropic mengakui di riset mereka bahwa model bisa saja belajar untuk sengaja menipu.
Makanya mereka ngegas banget di area “bagaimana memastikan model yang dirilis ke publik nggak jadi manipulator diam-diam.”
Bisnis Model: Nggak Mau Jadi “Mesin Kecanduan” Baru
Satu keputusan besar Anthropic adalah fokus ke enterprise dan tools produktivitas, bukan ngejar aplikasi konsumen yang bikin orang betah scroll dan kecanduan.
Mereka kelihatan cukup trauma sama pola “engagement dan iklan” ala media sosial yang ngejar jam nonton dan klik, bukan manfaat jangka panjang.
Beberapa langkah yang mereka ambil:
-
Ngembangin Claude Code: tool yang bisa menulis dan mengedit kode dalam jumlah besar.
-
Bikin Claude Cowork: semacam “asisten kerja” buat tugas-tugas non-teknis, supaya kekuatan Claude Code bisa dirasakan juga oleh tim non-engineer.
Fokus ke enterprise ini nyambung sama values mereka:
-
Mereka pengin AI dipakai buat hal-hal kayak riset obat baru, energi yang lebih efisien, dan kolaborasi dengan biotech, farmasi, dan peneliti.
-
Semua itu dunia enterprise, bukan hiburan massal.
Secara hasil, pendekatan ini kelihatan “jalan banget”:
-
Pendapatan Anthropic disebut meroket dalam setahun terakhir.
-
Perusahaan akhirnya menyentuh titik profit untuk pertama kalinya.
Claude Code: Dari Menulis Kode Sendiri ke “Ngobrol Sama Ribuan Claude”
Bagian paling “ajaib” di cerita ini muncul waktu kita diajak kenalan sama Boris Cherny, orang di balik Claude Code dan Claude Cowork.
Sebelum gabung Anthropic tahun 2024, dia hidup di pedesaan Jepang, sibuk datang ke pasar petani dan bikin miso—jauh banget dari hiruk pikuk Silicon Valley.
Terus dia nyoba chatbot AI pertama kali dan langsung kepikiran:
“Ini gila banget, gue harus ikut main di sini, tapi juga ini bisa salah arah besar-besaran.”
Akhirnya dia balik ke dunia teknologi, dan di Anthropic, dia ngegas bikin pengalaman coding yang jauh melampaui sekadar auto-complete.
Cara dia ngejelasin perubahannya simple tapi mind-blowing:
-
Dulu: kamu nulis semua kode sendiri, kadang ada saran satu baris dari AI.
-
Sekarang: kamu ngobrol sama Claude, jelasin apa yang kamu mau, dan Claude yang nulis kode dari ujung ke ujung.
-
Bahkan bisa ada ratusan sampai ribuan “Claude” yang bekerja paralel mengerjakan bagian-bagian berbeda secara bersamaan.
Boris bilang, di timnya, hampir semua kode ditulis oleh Claude.
Selama enam bulan terakhir, dia pribadi mengaku 100% kodenya ditulis oleh Claude, dan pekerjaan engineering jadi terasa kayak pakai jetpack: lebih cepat, lebih seru, dan jauh lebih produktif.
Konferensi “Code with Claude” dan Ledakan Pertumbuhan
Anthropic sekarang punya konferensi tahunan sendiri: Code with Claude.
Di sana, developer dan fans Claude datang buat lihat demo, denger roadmap, dan ngerasain vibe “masa depan kerja” secara langsung.
Angkanya gila-gilaan:
-
Volume API tumbuh hampir 17 kali lipat dalam satu tahun.
-
Dalam 12 bulan, mereka merilis delapan model frontier baru untuk developer dan user.
-
Di salah satu kuartal, kalau di-annualize, pertumbuhan bisa tembus 80 kali.
Suasananya kayak festival teknologi mini:
-
Ada developer yang bilang mereka pakai Claude tiap hari, bukan cuma buat coding, tapi juga buat tugas lain.
-
Ada peserta non-teknis yang ngaku ngeri sekaligus excited ngeliat seberapa cepat AI bisa ngerjain hal-hal yang dulu mustahil.
Dan di balik euforia itu, kegelisahan tentang masa depan kerja nggak pernah benar-benar hilang.
AI, Job Loss, dan Masa Depan yang Bikin Campur Aduk
Dario termasuk orang yang paling blak-blakan ngomong soal risiko AI ke dunia kerja.
Dia pernah bilang, AI bisa menghapus sampai setengah dari pekerjaan entry-level white-collar dalam 1–5 tahun.
Dalam obrolan ini, dia mengakui:
-
Dia masih sama khawatirnya.
-
Saat ini, AI memang bikin orang-orang tertentu jadi jauh lebih produktif.
-
Tapi itu baru fase pertama: ketika 90% pekerjaan diotomasi, manusia masih megang 10% sisanya dan kelihatan “10 kali lebih produktif.”
Lambat laun, kalau 100% pekerjaan sudah bisa diambil alih AI, pertanyaannya berubah jadi: “Sekarang mereka kerja apa?”
Dan Dario nggak mengelak, ini bikin dia nggak nyaman.
Beberapa poin yang dia tekankan:
-
Ada risiko kombinasi aneh: pertumbuhan ekonomi super cepat, tapi pengangguran tinggi dan ketimpangan yang makin besar.
-
Banyak orang bisa terjebak di pekerjaan-pekerjaan bergaji rendah.
Anthropic pernah nerbitin paper yang memetakan sektor mana saja yang paling gampang “dimakan” AI dalam waktu dekat:
-
Manajemen.
-
Keuangan.
-
Legal.
Tapi jujur aja, mereka sendiri mengakui:
-
Nggak ada yang bener-bener tau pasti skenario akhirnya.
-
Ekonomi itu nggak bisa diprediksi lurus.
Bukan Cuma “Doomer”: Mereka Juga Ngomong Solusi
Ada kritik yang bilang Dario dan Anthropic sengaja “jual ketakutan” supaya bisnis mereka kelihatan relevan.
Jensen Huang (NVIDIA) misalnya, pernah komentar bahwa orang terlalu “nyampurin” antara tugas dengan pekerjaan; menurut dia, AI justru menciptakan pekerjaan baru.
Dario cukup keras menolak tuduhan “doom marketing”:
-
Dia bilang, dia menulis panjang lebar tentang perbedaan tugas vs pekerjaan, dan why this time is different.
-
Dia juga mengusulkan berbagai solusi: pajak, kebijakan makroekonomi, sampai gambaran jenis pekerjaan baru di era “remaja teknologi” ini.
Masalahnya, di era sosial media, orang cuma potong omongan tiga detik dan disebar.
Dia bilang, justru “narasi bahwa dia jual ketakutan demi marketing” itu sendiri adalah bentuk marketing murahan ala Silicon Valley.
Pesan utamanya malah lebih ke:
-
“Ini bukan doom pasti terjadi.”
-
“Ini sesuatu yang perlu kita sadari dan tanggapi dengan serius sebelum telat.”
Kalau Banyak Pekerjaan Hilang, Orang Akan Ngapain?
Ketika ditanya, “Kalau lima tahun lagi banyak yang nganggur, ini kan bisa mirip bibit revolusi?” Dario tidak pura-pura optimis.
Dia bilang, skenario itu justru yang pengin dihindari.
Beberapa kemungkinan yang dia lihat:
-
Dunia fisik: kita butuh lebih banyak orang membuat dan membangun hal nyata—manufaktur, infrastruktur, energi, dan sebagainya.
-
Pekerjaan yang sangat manusia-sentris: interaksi manusia ke manusia, hubungan, empati, hal-hal yang susah digantikan bot.
-
Peran “pengarah AI”: orang yang memastikan AI berjalan sesuai nilai dan tujuan tertentu, meskipun dia jujur nggak yakin seberapa besar peran ini.
Daniela menambahkan, dia sedikit lebih optimis bahwa:
-
Manusia akan terus nemuin cara memanfaatkan AI untuk ngerjain bagian kerja yang “bikin pusing”.
-
Sementara manusia fokus ke bagian yang bermakna dan butuh sentuhan emosional.
Contoh yang dia suka pakai: dunia medis.
-
AI bisa jadi sangat jago enumerasi kemungkinan diagnosa dan ngasih rekomendasi tes.
-
Tapi AI nggak bisa meraba, nanya, “Sakitnya di mana?”, dan dampingi pasien secara emosional.
Dia membayangkan, profesi seperti dokter akan jadi lebih “manusiawi”, lebih tentang hubungan dokter-pasien, karena bagian teknis diagnosis bisa dibantu AI.
Refleksi: Dari Oppenheimer ke “Jangan Ada Tokoh Utama Tunggal”
Di akhir, obrolan nyenggol ke satu analogi klasik: bom atom.
Dario bilang salah satu buku favoritnya adalah “The Making of the Atomic Bomb.”
Waktu ditanya apakah dia merasa mirip Oppenheimer, dia justru lebih merasa dekat dengan figur Leo Szilard—orang yang pertama kali punya ide reaksi berantai.
Dan di sini muncul salah satu kalimat paling jujur: dia melihat Oppenheimer sebagai “contoh kegagalan,” sesuatu yang sebaiknya tidak terulang.
Menurut dia, kita nggak akan selamat dari era AI ini kalau mengandalkan tokoh tunggal yang dipuja sebagai penyelamat atau “bapak AI.”
Yang dibutuhkan justru sistem:
-
Banyak aktor kuat dengan kepentingan berbeda.
-
Check and balance di berbagai level—regulasi, bisnis, riset, sampai masyarakat.
Buat mereka, AI bukan cuma soal bikin model paling kuat, tapi gimana caranya teknologi ini bisa “dijinakkan” oleh struktur sosial yang nggak gampang dibajak satu pihak saja.
Waktu Kita Ikut Ngobrolin Masa Depan
Kalau ditarik ke hidup kita sehari-hari, terutama kamu yang kerja pakai laptop, nulis, ngoding, ngurus data, atau bikin konten, cerita Anthropic ini berasa kayak spoiler masa depan.
Di satu sisi, AI ngasih kita “jetpack”—kerjaan yang dulu makan waktu seharian bisa beres dalam hitungan menit.
Di sisi lain, ada tanya besar: kalau mesin bisa ngerjain semuanya, nilai kita sebagai manusia nanti di mana?
Di empati kita? Di kreativitas? Di keberanian ngambil keputusan? Di kemampuan nge-lead orang lain?
Nah, sekarang giliran kamu:
Kalau kamu bisa “lempar” 80–90% rutinitas ke AI, kira-kira kamu pengin fokus ke kerjaan bagian mana yang menurut kamu paling manusiawi dan paling bikin hidup kamu berasa berarti?




Leave a Comment