Dunia teknologi baru saja mengalami guncangan besar yang membuat para investor di Wall Street hingga Dalal Street berkeringat dingin. Aktor utamanya bukan lagi sekadar ChatGPT, melainkan Anthropic dengan model terbarunya, Claude. Menariknya, bagi dunia luar, Anthropic mungkin adalah raksasa yang belum pernah Anda dengar—perusahaan bernilai $350 miliar yang sudah mulai berani memasang iklan di Super Bowl, namun tetap terasa asing bagi orang awam.
Dulu, Claude mungkin dianggap hanya ‘mainan anak tech’ untuk membantu para engineer mencari bug di ribuan baris kode. Namun, rilis Claude Opus 4.6 baru-baru ini telah mengubah persepsi tersebut menjadi ancaman eksistensial bagi pekerja kantoran. Pasar saham bereaksi dengan kepanikan yang luar biasa, seolah-olah lonceng kematian bagi industri perangkat lunak (software) tradisional sudah dibunyikan. Inilah yang kini disebut sebagai “Claude Moment.”

Berikut adalah 5 hal mengejutkan dari fenomena ini yang perlu Anda pahami.
Mode ‘Seek and Destroy’ di Pasar Saham
Pasar saham saat ini tidak lagi sekadar mencari siapa pemenang dalam revolusi AI, melainkan sedang aktif berburu siapa yang akan tumbang. Analis menyebut fenomena ini sebagai mode “Seek and Destroy”. Begitu Anthropic mengumumkan 11 plugin terbaru—terutama yang ditujukan untuk sektor hukum—saham perusahaan analisis hukum profesional seperti Thomson Reuters, RELX, dan Vultus langsung merosot tajam.
Kepanikan ini mengingatkan kita pada sejarah yang belum lama berselang: guncangan yang dipicu oleh AI asal China, DeepSeek, yang sempat menyapu nilai pasar ratusan miliar dolar dalam sekejap.
“The market was in seek and destroy mode looking out for the losers in AI.”
Hanya dengan satu pengumuman fitur, miliaran dolar nilai pasar menguap. Investor saat ini berada dalam mode “jual dulu, tanya belakangan,” sangat agresif menghukum perusahaan yang dianggap tidak siap menghadapi gempuran fitur-fitur baru Claude.
‘SAS Apocalypse’ dan Nasib Raksasa Software
Global brokerage Jefferies memunculkan istilah yang mengerikan: “SAS Apocalypse”. Ketakutannya adalah AI tidak lagi bertindak sebagai asisten yang membantu software, melainkan menjadi predator yang memakan model bisnis software itu sendiri. Bahkan, Jefferies menyebut aktivitas perdagangan saat ini sebagai selling dengan gaya “Get me out!” (keluarkan saya dari sini!).
Dampaknya terasa hingga ke India. Perusahaan IT besar seperti Persistent Systems, LTI Mindtree, dan Koforge melihat saham mereka tumbang antara 6% hingga 7%, menghapus lebih dari 1,5 lakh crore rupee nilai pasar hanya dalam hitungan menit.
Mengapa model bisnis SaaS (Software as a Service) terancam?
- Matinya Lisensi ‘Per-Seat’: Model bisnis yang mengandalkan biaya per-karyawan menjadi tidak relevan jika satu AI bisa menggantikan pekerjaan sepuluh orang.
- Ancaman Model Berdaulat: Tidak seperti startup AI lain yang menumpang model pihak ketiga, Anthropic membangun modelnya sendiri dari nol. Hal ini membuat mereka menjadi ancaman yang lebih berdaulat dan berbahaya bagi raksasa seperti Adobe, Salesforce, dan Microsoft.
- Efisiensi vs Pendapatan: Investor khawatir kemampuan AI untuk membuat aplikasi sendiri hanya dengan perintah teks akan membuat perusahaan tidak lagi butuh berlangganan software mahal.
Bukan Cuma Coding, Tapi ‘Knowledge Work’ Secara Massal
Claude kini secara terang-terangan membidik semua orang yang bekerja di kantor. Targetnya adalah pengacara, akuntan, analis finansial, hingga industri periklanan. Bahkan perusahaan besar seperti Publicis ikut merasakan dampak aksi jual di pasar saham meski mereka baru saja melaporkan hasil kinerja yang baik.
Salah satu fitur yang paling disorot adalah kemampuan Claude dalam membantu pembuatan presentasi PowerPoint secara otomatis. Mari kita jujur: ada banyak posisi di kantor yang jam kerjanya 90% hanya dihabiskan untuk membuat slide presentasi. Jika Claude bisa membangun presentasi dan melakukan analisis finansial yang rumit secara mandiri, maka peran manusia dalam rantai kerja intelektual sedang mengalami pergeseran besar-besaran.
Krisis Identitas Situs Perantara (Kasus Booking.com)
Fenomena Claude juga memicu krisis identitas bagi platform agregator. Ambil contoh Booking.com. Meskipun mereka berinvestasi besar pada AI, muncul pertanyaan eksistensial: di masa depan, apakah kita masih akan membuka website Booking.com untuk mencari hotel?
Pasar mulai bertaruh pada skenario di mana pengguna cukup mengobrol dengan antarmuka chatbot (seperti Claude atau Gemini) sebagai “Gatekeeper” tunggal. Chatbot ini akan mengatur rencana perjalanan, memesan tiket, dan hotel sekaligus. Inilah “mood baru” di pasar: ketakutan bahwa platform yang selama ini menjadi pintu gerbang informasi akan menjadi tidak relevan karena pengguna lebih memilih kenyamanan satu antarmuka percakapan.
Suara Perlawanan dan Realita di Lapangan
Namun, di tengah hiruk-pikuk ini, ada suara-suara yang mencoba menenangkan suasana. CEO NVIDIA, Jensen Huang, menyebut ide bahwa AI akan menggantikan software secara total sebagai hal yang “illogical” (tidak logis). Menurutnya, AI justru sangat bergantung pada software yang sudah ada untuk bisa bekerja, bukan menggantikannya.
Ada juga hambatan nyata yang sering dilupakan oleh para spekulan:
- Masalah Liabilitas (Tanggung Jawab Hukum): AI belum bisa memikul tanggung jawab hukum. Jika sebuah draf kontrak legal salah total, Anda tidak bisa menyeret AI ke pengadilan. Manusia tetap harus menjadi penanggung jawab terakhir.
- Kombinasi Terbaik: Sepanjang sejarah, penggunaan teknologi yang paling efektif selalu melibatkan kombinasi antara “Man and Machine”. AI mungkin unggul dalam pemodelan data, namun keputusan investasi yang tajam tetap membutuhkan intuisi manusia.
Kesimpulan: Masa Depan yang Masih ‘Bayi’
Melihat guncangan hebat di bursa saham—seperti saham Gartner yang anjlok hingga 21%—kita mungkin merasa sedang berada di akhir zaman industri software. Namun, realitanya kita masih berada di tahap awal (infancy). Saat ini, ketakutan investor jauh melampaui fakta yang ada di lapangan. Kita masih mencoba memahami apa sebenarnya teknologi ini, apalagi memprediksi dampak absolutnya.
Sejarah mengajarkan bahwa teknologi baru sering kali menciptakan kekacauan pasar sebelum akhirnya menemukan keseimbangan baru. Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah AI akan mengubah pekerjaan Anda, melainkan seberapa cepat Anda bisa ‘menunggangi’ alat-alat baru ini untuk tetap tajam dan kompetitif.
Jadi, apakah Anda sudah mulai mengeksplorasi Claude hari ini, atau masih setia dengan cara lama sambil berharap badai ini hanya sekadar drama Wall Street? Ingat, di dunia teknologi, yang tidak beradaptasi biasanya adalah yang pertama kali “dihancurkan.”



Leave a Comment