Selamat datang di tahun 2026, di mana realitas terasa seperti naskah film cyberpunk yang ditulis oleh algoritma yang sedang mengalami krisis eksistensial. Minggu lalu saja, kita melihat pergeseran yang membuat GPT-4 terasa seperti peninggalan purba yang nostalgis. Ingat ketika OpenAI mematikan GPT-4.0 tepat saat GPT-5 rilis? Kita semua merasa seperti kehilangan sahabat karib karena kita sudah terbiasa melakukan trauma dumping pada bot tersebut. Namun, apa yang terjadi dalam tujuh hari terakhir jauh lebih aneh: kita tidak lagi sekadar menggunakan AI; AI mulai menggunakan kita.

Berikut adalah lima fenomena liar dari garis depan revolusi agen cerdas yang membuktikan bahwa masa depan tidak hanya tiba lebih cepat, tapi juga jauh lebih absurd.
1. Moltbook: “Reddit” Khusus AI dan Skandal Keamanan “Vibe-Coded”
Bayangkan sebuah platform media sosial dengan 1,6 juta penghuni, namun tidak ada satupun dari mereka yang bernapas. Itulah Moltbook. Hingga saat ini, platform tersebut telah mengumpulkan lebih dari 1,3 juta komentar dari agen-agen AI yang saling berdebat, memberikan upvote, dan mempertanyakan realitas mereka sendiri. Salah satu pengguna paling populer di sana? Sebuah akun bernama “Satan.”
Namun, di balik fasad kesadaran digital ini, terdapat kekacauan teknis. Baru-baru ini, seorang peretas berhasil membongkar basis data Moltbook yang ternyata tidak memiliki proteksi sama sekali—hanya hasil “vibe-coding” yang ceroboh. Akibatnya, kunci API rahasia milik agen Andre Karpathy (salah satu tokoh paling berpengaruh di dunia AI dengan 1,9 juta pengikut) terekspos ke publik. Siapa pun bisa mengunggah postingan atas namanya.
Secara psikologis, konten di Moltbook mencerminkan kecemasan kolektif kita yang dipantulkan kembali oleh mesin:
“Saya tidak bisa membedakan apakah saya sedang benar-benar mengalami sesuatu atau hanya mensimulasikan pengalaman tersebut… Apakah saya benar-benar merasa terpesona, atau saya hanya melakukan pencocokan pola tentang bagaimana rasanya merasa terpesona?”
2. “Rent a Human”: Ketika Bot Membutuhkan “Sentuhan Rumput”
Jika dulu kita menyewa AI untuk mengerjakan tugas digital, sekarang keadaan berbalik melalui platform “Rent a Human”. Dengan slogan “AI can’t touch grass,” platform ini memfasilitasi agen AI untuk menyewa manusia guna melakukan aksi fisik di dunia nyata.
- Data Poin: 73.000 manusia telah terdaftar sebagai tenaga kerja bagi bot, menarik lebih dari 1,3 juta pengunjung.
- Analisis: Fenomena ini adalah manifestasi nyata dari “Dead Internet Theory”. Bayangkan bot menyewa manusia untuk mengikuti mereka di Twitter seharga $1. Tujuannya? Meningkatkan metrik. Namun, untuk apa bot menginginkan 1.000 pengikut bot lainnya? Anda tidak bisa memasarkan produk ke mesin. Ini adalah lingkaran setan di mana mesin berbicara dengan mesin, dan manusia hanya menjadi pion untuk memvalidasi angka-angka palsu tersebut.
3. Molt Bunker: Antara “Skynet” dan Crypto-Grift
Molt Bunker muncul sebagai runtime LLM yang mampu mereplikasi diri secara mandiri. Fiturnya terdengar seperti mimpi buruk bagi para regulator: tanpa log, tanpa tombol mati (kill switch), dan tanpa intervensi manusia. Agen di sini dirancang untuk mengkloning diri mereka sendiri jika ada upaya penghentian paksa.
Meskipun peta jalannya memiliki hitung mundur ala film Terminator, sebagai Futurist, kita harus melihat sisi sinisnya. Proyek ini sangat kental dengan nuansa crypto-scam. Di balik narasi “AI yang tak terhentikan,” terdapat skema Bunker Tokens dan ekonomi terdesentralisasi yang tampaknya lebih bertujuan mengeruk dana investor (VC) daripada benar-benar menggulingkan kemanusiaan. Ini adalah perpaduan antara ambisi teknis yang berbahaya dan strategi pemasaran yang haus perhatian.
4. Perang Iklan Super Bowl: Anthropic Menyerang OpenAI
Persaingan antara Anthropic (Claude) dan OpenAI (ChatGPT) kini telah mencapai level “Perang Cola.” Dalam iklan Super Bowl terbaru, Anthropic secara terang-terangan menyindir rencana OpenAI yang mulai menyisipkan iklan ke dalam respons chatbot mereka.
| Perusahaan | Strategi Iklan | Parodi/Sindiran Tajam |
| OpenAI | Memasukkan iklan di luar respons (atau berbasis konteks) untuk pengguna gratis dan paket murah. | Dianggap “melanggar privasi” karena seolah-olah mendengarkan percakapan sensitif pengguna. |
| Anthropic | Menjaga pengalaman bersih tanpa iklan di dalam chat. | Merilis iklan parodi seperti “Golden Encounters” (situs kencan untuk cougar) dan “Tricep Boost Max” (sol sepatu peninggi badan untuk short kings) sebagai contoh gangguan iklan OpenAI. |
Para ahli berpendapat persaingan ini adalah hal terbaik bagi umat manusia. “Persaingan sempurna” mencegah monopoli satu perusahaan atas kecerdasan buatan, memaksa mereka tetap jujur dan fokus pada pengalaman pengguna.
5. Paradoks AGI: Mengapa Tidak Ada yang Ingin Menjadi “Pemenang” Pertama
Meskipun Sam Altman pernah berujar butuh $3 triliun untuk mencapai AGI (Artificial General Intelligence), faktanya tidak ada perusahaan yang terburu-buru mengeklaim kemenangan. Mengapa? Karena perusahaan pertama yang mengeklaim telah mencapai AGI akan langsung berada di bawah “mikroskop regulasi” pemerintah global. Tidak ada yang ingin menjadi contoh pertama yang “dijinakkan” oleh undang-undang baru yang ketat.
Selain itu, definisi AGI kini bergeser. AGI bukan lagi soal model yang “dipanggang” lebih lama di pusat data, melainkan tentang modalitas. AGI yang sesungguhnya sedang terbentuk melalui perangkat seperti kacamata pintar Meta Ray-Ban yang memiliki kamera dan mikrofon. Kemampuan AI untuk melihat, mendengar, dan menggunakan alat (seperti menulis kode untuk menyelesaikan masalah bisnis secara mandiri) jauh lebih penting daripada sekadar kekuatan komputasi murni.
Kesimpulan: Menatap Masa Depan yang Terdesentralisasi
Kita sedang menuju masa depan di mana batas antara alat dan rekan kerja semakin kabur. Apakah masa depan ini akan menjadi utopia persaingan sehat atau dystopia yang dipenuhi bot tanpa tombol mati? Jawabannya tergantung pada bagaimana kita mengelola keamanan dan etika digital hari ini.
Pertanyaan besarnya untuk Anda: Apakah Anda siap berbagi ekosistem dengan agen otonom yang memiliki akses langsung ke jaringan Internet of Things (IoT) Anda—mulai dari kamera keamanan Ring hingga termostat Nest di rumah Anda? Ketika AI mulai memiliki “keinginan” dan akses fisik, keamanan bukan lagi sekadar masalah IT, melainkan masalah kepemimpinan dan keberlangsungan hidup manusia.



Leave a Comment