Prompt adalah instruksi atau pertanyaan yang kamu berikan ke AI. Sesederhana itu. Tapi karena AI merespons persis sesuai apa yang kamu minta, cara menyusun prompt sangat menentukan mutu jawabannya.
Kenapa hasilnya sering mengecewakan
Kebanyakan orang menulis prompt seperti mengetik di kotak pencarian: pendek, samar, tanpa konteks. Lalu kecewa karena jawabannya generik.
Coba bandingkan. “Buatkan caption Instagram” akan menghasilkan sesuatu yang datar. Sementara “Buatkan tiga pilihan caption Instagram untuk toko kopi kecil di Denpasar, nada santai, maksimal dua kalimat, tanpa tagar” menghasilkan sesuatu yang bisa langsung dipakai.
Empat bahan prompt yang bagus
- Konteks. Siapa kamu, untuk siapa tulisannya, situasinya apa.
- Tugas yang spesifik. Bukan “bantu saya”, tapi kata kerja yang jelas: ringkas, bandingkan, susun ulang, periksa.
- Batasan. Panjangnya berapa, nadanya bagaimana, apa yang harus dihindari.
- Bentuk keluaran. Paragraf, poin-poin, tabel, atau tiga pilihan untuk dipilih.
Yang paling sering dilupakan
Prompt bukan sekali jadi. Percakapan pertama jarang langsung tepat. Justru di putaran kedua dan ketiga hasilnya jadi bagus, karena kamu sudah bisa bilang “terlalu formal”, “terlalu panjang”, atau “bagian kedua saja yang saya suka, kembangkan itu”.
Dan satu lagi: memberi contoh jauh lebih ampuh daripada menjelaskan panjang lebar. Tempelkan satu tulisan bergaya yang kamu mau, lalu minta AI mengikuti gayanya.
Bacaan lanjutan
Kalau kamu ingin melangkah dari sekadar menulis prompt ke merancang AI yang benar-benar bekerja, lihat 7 Skill Utama Buat Nyiptain AI Agent Super Pintar.
Istilah terkait
Kembali ke Glosarium AI.
