
Peringatan Elon Musk: AI sudah bisa mengambil alih ‘setengah atau lebih’ pekerjaan white-collar. Bukan di tahun 2030. Tapi sekarang juga.
Apa artinya jika satu-satunya ‘skill’ Anda adalah mengetik di keyboard?
Dalam wawancara terbarunya di podcast Moonshots, Musk tidak sedang meramal masa depan. Ia menggambarkan gelombang AI dan robotik sebagai “supersonic tsunami” yang sudah mulai menghantam.
Peringatan Musk bukan soal fiksi ilmiah—ini adalah audit brutal terhadap realitas karier kita saat ini. Ada tiga bom waktu yang ia jelaskan, dan kita harus memahaminya.
Pertama, kemampuan AI sudah di sini, hanya tertunda oleh inersia perusahaan. Banyak dari kita berpikir, “Jika AI sehebat itu, kenapa saya masih punya pekerjaan?” Jawaban Musk menusuk: batasan saat ini bukan pada kapabilitas AI, melainkan pada keengganan perusahaan untuk berubah.
AI sudah mampu mengerjakan lebih dari separuh pekerjaan yang hanya melibatkan “mengubah bit informasi”. Tapi banyak perusahaan masih berjalan seperti biasa karena terbiasa dengan cara kerja lama.
Namun, ini tidak akan bertahan lama. Perubahan akan dipaksa terjadi oleh sebuah forcing function: kompetisi. Perusahaan yang lebih cepat mengadopsi AI akan mengalahkan yang lambat, memaksa semua orang ikut berubah atau mati.
Dan forcing function inilah yang menjadi pendorong brutal menuju realitas ekonomi baru yang Musk ramalkan selanjutnya.
Di sinilah pemikirannya menjadi radikal. Musk tidak hanya meramalkan hilangnya pekerjaan; ia meramalkan runtuhnya konsep ‘gaji’ itu sendiri.
Ia menyebutnya “Universal High Income” (UHI). Ini bukan skema pemerintah membagi-bagikan uang pajak. Ini adalah hasil alami dari biaya produksi yang anjlok mendekati nol, di mana tenaga kerja hanya seharga biaya modal dan listrik.
Harga barang dan jasa akan mengalami deflasi massal. Efisiensi produksi AI akan tumbuh jauh lebih cepat dari suplai uang. Bahkan, Musk memprediksi output barang dan jasa akan tumbuh begitu pesat melampaui kemampuan pemerintah untuk mencetak (dan menghamburkan) uang—sebuah ide yang mengejutkan.
Kita tidak lagi bekerja untuk ‘gaji’, kita hidup di dunia kelimpahan materi. Tapi saat semua kebutuhan terpenuhi, masalah sebenarnya baru dimulai.
Ini adalah paradoks terbesar: kelimpahan materi justru memicu kekacauan sosial. Musk secara gamblang memprediksi kita akan memiliki “universal high income DAN kerusuhan sosial” secara bersamaan.
Mengapa? Jawabannya adalah hilangnya makna dan ketakutan massal. Saat AI melakukan segalanya, manusia kehilangan tujuan. Tapi ini bukan sekadar apatis. Musk menyebutkan bahwa orang-orang akan “ketakutan setengah mati” (scared shitless) oleh kecepatan perubahan yang tak terkendali.
Untuk membuktikan ini bukan teori abstrak, Musk memberi contoh yang meruntuhkan ego profesional kita: Dalam 3 tahun, robot Optimus bisa menjadi ahli bedah yang lebih baik dari manusia manapun—tersedia di desa terpencil sekalipun.
Ini bukan lagi soal otomatisasi pekerjaan level rendah; ini adalah komoditisasi keahlian paling elite di dunia.
Visi Musk menawarkan utopia teknologi di satu sisi, dan krisis eksistensial kemanusiaan di sisi lain.
Ini pertanyaan serius untuk kita semua: Di antara dua prediksi Musk—kelimpahan materi atau kekacauan sosial—mana yang menurut Anda lebih mungkin terjadi di Indonesia? Dan mengapa?




Leave a Comment