Beberapa hari setelah Gedung Putih mengganti istilah AI menjadi Super Intelligence, Presiden Donald Trump membentuk satgas dengan nama baru itu. Pemimpinnya Direktur Intelijen Nasional, bukan investor teknologi.
Sikapnya soal memperlambat AI juga sudah jelas sejak hari pertama.

Ringkasan cepat
- Apa: satgas federal bernama Super Intelligence Force.
- Kapan: diumumkan 4 Oktober 2026 lewat Truth Social.
- Pemimpin: Jay Clayton, Direktur Intelijen Nasional, disebut sebagai AI czar kedua pemerintahan ini.
- Tenggat: laporan risiko dan peluang dalam 120 hari, menurut Clayton kepada Wall Street Journal.
- Sikap utama: menolak strategi perlambatan terkoordinasi.
Siapa saja di dalamnya
Menurut SiliconANGLE, Jay Clayton memimpin, dengan tiga wakil ketua: Ketua FTC Andrew Ferguson, Direktur OPM Scott Kupor, dan CTO Pentagon Emil Michael. Wall Street Journal juga menyebut anggota lain, yaitu Wakil Presiden JD Vance, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, dan Menteri Keuangan Scott Bessent.
Sebagai penasihat dari luar pemerintahan disebut mantan Menteri Luar Negeri Condoleezza Rice dan David Sacks, investor modal ventura yang memegang jabatan AI czar sampai Maret. Satgas melapor kepada Trump dan Kepala Staf Gedung Putih Susie Wiles.
Apa tugasnya
Piagamnya menyebut rencana untuk menghadapi ancaman terhadap masyarakat yang dimungkinkan oleh Super Intelligence. Satgas juga bertugas mengatur bagaimana pemerintah menangani pengungkapan pelanggaran keamanan, dengan rekomendasi agar lembaga bisa merespons lebih baik memakai kewenangan yang sudah ada.
Piagam yang sama menyatakan satgas harus mencegah regulasi berlebihan dan penangkapan regulator (regulatory capture) yang bisa menghambat inovasi dan persaingan.
Sikap Clayton soal memperlambat AI
Kepada Wall Street Journal, Clayton berkata risiko tidak menjadi yang pertama itu tinggi. Kepada CNBC, soal perlambatan terkoordinasi, ia berkata tidak ada orang Amerika yang seharusnya menganggapnya strategi yang baik.
Itu langsung berseberangan dengan esai Dario Amodei yang diikuti dukungan Sam Altman dan Elon Musk, serta seruan lain yang kami rangkum di artikel tentang seruan memperlambat AI. Menurut SiliconANGLE, pada 19 September Trump sendiri menyebut ketakutan soal bahaya AI sebagai hoaks.
Konteks kebijakan
Satgas ini datang beberapa hari setelah kesepakatan keselamatan sukarela dan perintah eksekutif Super Intelligence. Arah kebijakannya konsisten: percepat, atur secukupnya, dan tangani insiden lewat kewenangan yang sudah ada.
Yang belum jelas
Wewenang hukum. Sumber yang kami baca tidak menjelaskan kekuatan hukum satgas di atas lembaga yang sudah ada.
Apa yang terjadi setelah 120 hari. Menurut ringkasan media, masa kerjanya bisa diperpanjang atau fungsinya dipindahkan ke lembaga pemerintah. Rincian itu belum kami temukan di halaman resmi.
Kritik terhadap satgas sendiri. Artikel SiliconANGLE yang kami baca tidak memuat kritik langsung, hanya konteks sikap Clayton soal perlambatan.
Satgas ini diberi dua tugas yang saling menarik: menjaga Amerika tetap di depan, dan menghadapi ancaman dari teknologi yang sama.
Apa yang bisa kamu lakukan sekarang
- Bedakan satgas dari regulasi. Satgas menyusun rencana dan rekomendasi, belum aturan yang mengikat.
- Tunggu laporan 120 harinya. Itu dokumen pertama yang akan memperlihatkan arah kebijakan lebih rinci.
- Kalau kamu pelaku usaha yang menjual ke pemerintah AS, pantau kewajiban pelaporan insiden yang kini ditekankan.
- Bandingkan dengan arah di Eropa. Brussel memilih mengundang lab untuk membahas laju, sedangkan Washington menolak perlambatan.
Pertanyaan yang sering muncul
Apa itu Super Intelligence Force?
Satgas federal yang diumumkan Presiden Trump pada 4 Oktober 2026 lewat Truth Social, dipimpin Jay Clayton, untuk menyusun rencana menghadapi ancaman yang dimungkinkan Super Intelligence dan menjaga Amerika tetap memimpin.
Siapa Jay Clayton?
Direktur Intelijen Nasional AS yang kini juga memimpin satgas ini. Ia disebut sebagai AI czar kedua pemerintahan Trump setelah David Sacks yang menjabat sampai Maret.
Berapa lama waktu kerja satgas?
Clayton menyebut laporan tentang risiko dan peluang teknologi ini ditargetkan dalam 120 hari, menurut Wall Street Journal. Masa kerjanya disebut bisa diperpanjang.
Bagaimana sikap Clayton soal memperlambat AI?
Ia menolak. Kepada Wall Street Journal ia berkata risiko tidak menjadi yang pertama itu tinggi, dan kepada CNBC ia berkata tidak ada orang Amerika yang seharusnya menganggap perlambatan terkoordinasi sebagai strategi yang baik.
Siapa penasihat dari luar pemerintahan?
Mantan Menteri Luar Negeri Condoleezza Rice dan David Sacks, yang memegang jabatan AI czar sampai Maret, menurut SiliconANGLE.




Tinggalkan Komentar